Senin, 08 April 2013

Haji dan Ketentuan-ketentuannya

A. Pengertian dan Hukum Haji

Menurut bahasa, haji berarti sengaja mengunjungi. Menurut istilah, haji berarti sengaja berkunjung ke baitullah (kakbah) untuk melaksanakan beberapa rangkaian kegiatan ibadah yang telah ditentukan dengan syarat dan waktu tertentu.
Hukum menunaikan ibadah haji adalah fardhu bagi setiap muslim yang mampu mengunjungi Baitullah di Makkah dan kewajiban itu hanya sekali seumur hidup. Apabila melakukannya lebih dari satu kali, maka haji yang kedua dan seterusnya hukumnya sunah.
Ada pun orang-orang yang tidak berkemampuan dari segi bekal perjalanan, kesehatan , keselamatan perjalanan, maka tidak diwajibkan untuk haji (Q.S. AliImran : 97).
Kandungan ayat tersebut mengandung perintah diwajibkan ibadah haji bagi yang mampu. Maksud kata mampu di sini adalah mampu secara material ( biaya dirinya dan keluarga yang ditinggal), mampu secara fisik (sehat), dan mempunyai pengetahuan tentang manasik haji dan informasi tentang arab saudi. Orang islam yang sudah mampu tetapi belum menunaikan haji, dia akan mendapatkan dosa karena meninggalkan kewajiban.
Haji bisa dilakukan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut :
• Haji Ifrad à yaitu mengerjakan haji terpisah dengan umrah dalam bulan haji yang sama. Pertama mengerjakan haji dilanjutkan dengan umrah.
• Haji Tamattu’ à yaitu umrah dikerjakan lebih dulu baru kemudian melakukan haji dalam bulan haji yang sama.
• Haji Qiran à yaitu mengerjakan haji dan umrah secara bersamaan.
 Berikut ini adalah hadist yang menjelaskan tentang ketidakwajiban seseorang untuk haji, dikarenakan orang-orang tersebut tidak berkemampuan dari segi bekal perjalanan, kesehatan , keselamatan perjalanan.
 وأتموا الحج والعمرة لله فإن أحصرتم فما استيسر من الهدي ولا تحلقوا رؤوسكم حتى يبلغ الهدي محلة فمن كان منكم مريضًا أو به أذًى من رأسه ففدية من صيام أو صدقة أو نسك فإذا أمنتم فمن تمتع بالعمرة إلى الحج فما استيسر من الهدي فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام فى الحج وسبعة إذا رجعتم تلك عشرة كاملة ذلك لمن لم يكن أهله حاضرى المسجد الحرام واتقوا الله واعلموا أن الله شديد العقاب

Artinya : “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah dia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah/2: 196)

Istita’ah (mampu dan kuasa) dalam pelaksanaan ibadah haji, antara lain :
a. Sehat jasmani, artinya tidak dalam keadaan sakit atau mengidap suatu penyakit yang dapat membahayakan dirinya ataupun jemaah lain.
b. Aman dalam perjalanan, artinya adalah kendaraan yang dapat mengantar pulang dan pergi ke Mekkah dengan aman.
c. Mempersiapkan pengetahuan tentang ibadah haji
d. Memiliki bekal yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama menunaikan ibadah haji sekaligus cukup untuk menjamin kebutuhan keluarga yang ditinggalkan.

 B. Jenis-jenis Manasik Haji
1.Ifrad
Merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh, maka seorang yang memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-thawaf qudum, apabila telah ber-thawaf maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzulhijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan), serta tidak ber-Sa’i, kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.
Diantara bentuk-bentuk Ifrad adalah:
• Berumroh sebelum bulan-bulan haji dan tinggal menetap di Makkah sampai haji.
• Berumroh sebelum bulan-bulan haji, kemudian pulang ketempat tinggalnya dan setelah itu kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

2.Tamattu’
Tamatu’ adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan baginya untuk menyembelih hadyu (sembelihan). Oleh karena itu setelah thawaf dan sa’i dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzulhijah berihram untuk haji.

3.Qiran
Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus dan membawa hadyu (sembelihan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan qiran ini memiliki tiga bentuk: a) Berihram untuk haji dan umrah bersamaan, dengan menyatakanلبيك عمرةً وحجًا dengan dalil bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam didatangi Jibril dan berkata: صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة

Artinya : “Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin” (H.R Bukhari) b) Berihram untuk umrah saja pertama kali kemudian memasukkan haji atasnya sebelum memulai thawaf. Dengan dalil hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ketika beliau berihram untuk umrah kemudian haidh di Saraf. Lalu Rasulullah memerintahkan beliau untuk berihlal (ihram) untuk haji dan perintah tersebut bukan merupakan pembatalan umrah dengan dalil sabda Rasulullah dalam hadits tersebut: سعيك طوافك لحجك وعمرتك

Artinya : “Cukuplah bagi kamu thawafmu untuk haji dan umrahmu” (H.R Muslim no. 2925/132) c) Berihram untuk haji kemudan memasukkan umrah atasnya. Tentang kebolehan hal ini para ulama ada dua pendapat: 

Dalil hadits ‘Aisyah: أهل رسول الله r بالحج
Artinya : “Rasululloh berihlal (ihrom) dengan haji”.
 hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu: صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة فى حجة
Artinya : “Shalatlah di wadi yang diberkahi ini dan katakan “‘Umrah fi hajjatin” (H.R Bukhari)
دخل العمرة فى الحج إلى يوم القيامة
Artinya : “telah masuk umroh kedalam haji sampa hari kiamat.”

C. Syarat Wajib Haji
a.Islam
b.Berakal
c.Balig
d.Merdeka
e.Mampu
f.Dilaksanakan pada waktunya.
g.Khusus bagi perempuan harus di sertai suami (muhrim) atau orang lain yang dapat diberi amanah.
h.Wajib hanya sekali seumur hidup.

 D. Rukun Haji
Rukun haji adalah rangkaian amalan haji yang harus dikerjakan. Apabila amalan tersebut tidak dikerjakan, maka ibadah hajinya tidak saha atau tidak batal dan tidak boleh diganti dengan dam atau denda. Akan tetapi harus mengulangi hajinya pada waktu lain.
Berikut yang termasuk rukun haji, yaitu :
•Ihram atau berniat haji, yaitu memakai pakaian ihram sambil berniat melakukan haji.
•Wukuf di padang arafah, yaitu berhenti sebentar di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Di mulai saat masuk dzuhur sampai fajar tanggal 10 zulhijah.
•Sa’I yaitu lari-lari kencil antara Bukit Safa dan Marwah.
•Tahallul atau mencukur rambut.
•Tertib, artinya dilakukan secara berurutan.
•Thawaf , yaitu mengelilingi kakbah.

 Tawaf yang dilaksanakan dalam rangkaian ibadah haji ada empat macam, yaitu :
1) Tawaf qudum, yaitu tawaf yang dilakukan oleh orang yang baru tibak di Mekkah (Masjidil Haram). Tawaf qudum dilakukan sebagai tanda penghormatan terhadap kakbah.
2) Tawaf ifadah, yaitu tawaf yang dilakukan pada saat menunaikan ibadah haji.
3) Tawaf sunnah, yaitu tawaf yang dapat dilaksanakan pada setiap kesempatan.
4) Tawaf wada, yaitu tawaf yang dilakukan ketika jamaah haji akan meninggalkan kot amekkah atau baitullah. Tawaf wada disebut juga tawaf perpisahan.

 E. Wajib Haji
 Adalah amalandalam ibadah haji yang wajib dikerjakan. Apabila tidak dikerjakan maka tidak membatalkan haji. Hanya saja diganti dengan membayar dam atau denda.
Wajib haji ada 5 macam, yaitu :
1.Ihram dari miqat, yaitu batas waktu yang ditentukan untuk dimulainya menunaikan ibadah haji. Miqat dibagi 2, yaitu :
•Miqat zamani (waktu), yaitu waktu yang dimulainya ibadah haji dari awal bulan syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah.
•Miqat makani, yaitu tempat dimulainya ihram bagi yang akan mengerjakan haji atau imrah.

2.Mabit (bermalam) di muzdalifah, yaitu berhenti/bermalam sejenak mulai matahari terbenam sampai lewat tengah malam pada tanggal 10 zulhijah ketika mabit disunahkan membaca istigfar, berzikir, berdoa atau membaca al-quran.
3.Mabit di Mina, yaitu bermalam di mina pada hari hari tasyrik (pada malam tanggal 11 – 12 – 13 Zulhijah)
4.Melontar Jumrah, yaitu melempar jumrah ula, wusta, dan aqabah dengan batu kerikil pada hari nahar (pada waktu afdal pada tanggal 10 Zulhijah dan hari hari tasyrik tanggal 11 – 12, 13 Zulhijah). Melontar jumrah di lakukan sebenyak 7 kali, setiap lontaran 1 kerikil, waktu yang diutamakan adalah waktu zuhur.
5.Tawaf wada.

F. Sunah Haji Sunah haji adalah amalan yang dianjurkan selama dalam pelaksanaan ibadah haji.Di antara sunah haji tersebut adalah sebagai berikut:
1.Mandi untuk berihram baik haji maupun umrah.
2.Membaca talbiyah.
3.Membaca salawat dan do’a sesudah membaca talbiyah.
4.Melakukan tawaf qudum.
5.Masuk ke baitullah atau ka’bah dari hijir ismail. Jika tidak dapat memasuki kabah cukup di hijir ismail. 

G. Tingakatan Ibadah Haji
1. Haji Mardud à ialah haji yang tidak diterima oleh Allah SWT karena kekurangan syarat-syarat dan rukunnya atau sebab-sebab yang lain yang menyebabkan hajinya tidak diterima atau ditolak oleh Allah SWT. 2. Haji Maqbul à ialah haji yang sah dan diterima oleh Allah SWT dan orang yang mengerjakan haji maqbul ini dianggap sebagai telah menunaikan perintah Allah dan telah menyempurnakan rukun Islam yang ke-5 tanpa diberi ganjaran pahala.
3. Haji Makhsus à ibadah haji yang dikerjakan oleh orang-orang yang tertentu yang sempurna segala syarat dan rukunnya, ia bukan saja sekadar dianggap sah dan diterima oleh Allah tetapi diampunkan segala dosanya. Haji ini termasuk ke dalam apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Majah, An-Nasai dan Ahmad daripada Abu Hurairah yang artinya : “Barangsiapa haji ke rumah ini (Baitullah), kemudian tidak berkata kotor, dan tidak fasik, ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya”.

0 komentar:

Posting Komentar